Kiniin.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengaku sering menjadi sasaran kritik di media sosial terkait program cetak sawah di Papua. Ia menyampaikan hal tersebut saat meninjau lahan cetak sawah di Desa Waninggap Kai, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Sabtu (4/7/2026).
Percakapan yang berlangsung santai di sela kunjungan itu bermula ketika seorang petani Merauke, Yohanis Yandi, menyampaikan harapannya agar pemerintah kembali memperluas program cetak sawah di wilayahnya. Ia mengusulkan tambahan lahan seluas 2.000 hektare.
“Saya ada masih mau tambah lagi 2.000 hektar lagi, Pak,” kata Yohanis.
Permintaan tersebut langsung di sambut Amran dengan nada bercanda. Ia mengatakan siap memenuhi usulan itu, tetapi meminta Yohanis ikut memberikan penjelasan jika kembali muncul kritik di media sosial.
“Saya tambah, tapi dengan catatan kalau ada yang marah-marah di media sosial, Bapak yang jelaskan langsung,” ujar Amran sambil tersenyum.
Amran mengungkapkan, belakangan ia sering menemukan unggahan di media sosial, khususnya TikTok, yang menuding pemerintah menjalankan program cetak sawah di Papua secara paksa. Menurutnya, kondisi di lapangan justru memperlihatkan kenyataan berbeda.
Ia menilai banyak warga dan petani menginginkan program tersebut terus berlanjut karena mereka telah merasakan manfaatnya.
Menanggapi pernyataan itu, Yohanis menyatakan kesiapannya memberikan penjelasan kepada siapa pun yang meragukan pelaksanaan program tersebut.
“Kalau ada yang mau bicara, datang saja ke rumah saya. Saya 24 jam ada di rumah,” ujarnya.
Bagi Amran, respons spontan dari petani itu menunjukkan dukungan masyarakat terhadap program pemerintah lahir dari pengalaman mereka sendiri setelah merasakan hasilnya.
Ia menegaskan pemerintah menjalankan program cetak sawah dan optimalisasi lahan di Papua Selatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama putra-putri asli Papua. Pemerintah, kata dia, tidak memiliki tujuan mengambil hak masyarakat atas tanah mereka.
“Program ini milik rakyat, milik masyarakat putra daerah Papua. Jangan ada yang mengatasnamakan masyarakat mengatakan tidak setuju. Faktanya, setelah program berjalan, pendapatan masyarakat naik hingga 300 persen. Sekarang masyarakat justru meminta tambahan cetak sawah,” tegas Amran.
Papua Selatan Jadi Kawasan Pengembangan Pangan
Pemerintah terus menjadikan Papua Selatan sebagai pusat pengembangan pangan di Tanah Papua. Hingga 2026, program tersebut telah mencakup 48.934 hektare lahan cetak sawah dan 53.499 hektare lahan optimalisasi di wilayah Papua Selatan. Total luas kawasan produksi pangan yang di kembangkan mendekati 100 ribu hektare.
Secara keseluruhan, luas cetak sawah di Tanah Papua kini mencapai 83.030 hektare. Sementara itu, program optimalisasi lahan telah menjangkau 54.399 hektare.
Amran menjelaskan pemerintah tidak hanya membuka sawah baru. Pemerintah juga membangun ekosistem pertanian modern melalui penyediaan alat dan mesin pertanian, benih unggul, jaringan irigasi, brigade pangan, serta pendampingan kepada petani.
Menurutnya, penerapan teknologi pertanian modern yang selama ini berkembang di sejumlah negara kini mulai di terapkan di Merauke. Langkah tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong kesejahteraan petani.
Ia menyebut program itu mulai memberikan hasil yang terlihat. Indeks pertanaman meningkat dari 1,05 menjadi 1,82–2,00. Kenaikan itu juga di ikuti peningkatan produktivitas padi, luas panen, produksi beras, dan pendapatan petani.
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo mengatakan sebagian besar program cetak sawah di Tanah Papua berada di Kabupaten Merauke. Hampir seluruh kegiatan optimalisasi lahan juga terpusat di daerah tersebut.
“Ini menunjukkan Merauke menjadi pusat pengembangan pangan di Tanah Papua,” kata Apolo.
Ia menambahkan pemerintah daerah akan terus mendukung pengembangan kawasan pangan agar Merauke tidak hanya berperan sebagai lumbung pangan Papua, tetapi juga menjadi salah satu penyangga ketahanan pangan nasional. Ke depan, Merauke juga di harapkan mampu berkembang menjadi daerah pengekspor beras. (fnr/*)










Komentar