Mentan Gandeng KPK Awasi Program Bibit Rp9,95 Triliun, Temukan Potensi Kerugian Rp3,3 Miliar

- Jurnalis

Rabu, 17 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Foto: Arief/Liputan6)

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Foto: Arief/Liputan6)

Kiniin.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan sejumlah aparat penegak hukum untuk mengawasi pelaksanaan program bantuan bibit perkebunan yang nilainya mencapai Rp9,95 triliun. Langkah tersebut bertujuan memastikan anggaran negara tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

Menurut Amran, pengawasan yang kuat sangat penting karena program pembibitan akan menentukan produktivitas sektor perkebunan dalam jangka panjang. Karena itu, Kementerian Pertanian menjalin koordinasi dengan KPK, TNI, Polri, Kejaksaan, serta Satgas Pangan Polri.

“Kami ingin mencegah sejak awal agar tidak ada penyimpangan di lapangan. Karena itu kami berkoordinasi dengan KPK, kepolisian, kejaksaan, dan seluruh pihak terkait untuk bersama-sama mengawasi program ini,” kata Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Program tersebut mencakup pengadaan bibit berbagai komoditas perkebunan, seperti kelapa, kakao, kopi, tebu, jambu mete, dan pala. Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp9,95 triliun untuk mendukung pengembangan lahan perkebunan seluas 870 ribu hektare di berbagai daerah.

Amran menegaskan kualitas bibit menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan program tersebut. Ia mengingatkan bahwa kesalahan pada tahap awal pembibitan dapat berdampak hingga puluhan tahun karena sebagian besar tanaman perkebunan memiliki masa produktif yang panjang.

“Kelapa misalnya, sekali tanam bisa menghasilkan selama 30 sampai 60 tahun. Jika kualitas bibit tidak baik sejak awal, dampaknya akan terasa sepanjang masa produktif tanaman tersebut. Karena itu proses pembibitan harus benar-benar terjaga,” ujarnya.

Baca Juga :  Jokowi Siap Hadir di Sidang dan Tunjukkan Ijazah Asli

Ia optimistis program ini akan meningkatkan produksi komoditas perkebunan nasional dalam beberapa tahun mendatang. Setelah melewati masa pertumbuhan awal, tanaman di perkirakan mulai menghasilkan panen perdana dalam waktu sekitar tiga hingga empat tahun.

Meski belum memaparkan proyeksi kenaikan produksi secara rinci, Amran menilai tambahan lahan produktif seluas 870 ribu hektare akan memberikan kontribusi besar terhadap pasokan komoditas nasional.

“Ketika tanaman mulai berbuah dalam tiga sampai empat tahun ke depan, produksi akan meningkat cukup signifikan. Jika saat ini produksi kopi berada pada level tertentu, tambahan ratusan ribu hektare lahan tentu akan memberikan lonjakan produksi yang besar,” katanya.

Temuan Kekurangan Bibit dan Potensi Kerugian Negara

Penguatan pengawasan ini berangkat dari temuan ketidaksesuaian dalam pelaksanaan proyek pengadaan bibit kelapa di sejumlah daerah. Hasil pemeriksaan lapangan menunjukkan adanya selisih antara jumlah bibit yang tercantum dalam dokumen dan kondisi sebenarnya.

Amran mengungkapkan pihaknya menemukan sejumlah masalah saat melakukan pengecekan langsung. Kementerian Pertanian kemudian mengambil langkah evaluasi terhadap pihak yang bertanggung jawab serta meminta aparat penegak hukum menelusuri dugaan pelanggaran tersebut.

“Kami menemukan hasil yang tidak sesuai standar di beberapa lokasi. Karena itu kami melakukan evaluasi dan meminta aparat hukum melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya saat di temui di kediamannya bulan lalu.

Baca Juga :  SpaceX Kantongi Rp 1.339 Triliun dari IPO, Targetkan 100 Ribu Satelit

Selain itu, Amran juga memerintahkan Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian melakukan audit terhadap program serupa di seluruh Indonesia. Audit tersebut bertujuan memastikan tidak ada penyimpangan dalam pelaksanaan pengadaan bibit.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, Kementan menemukan kekurangan bibit sebanyak 136.795 batang dengan nilai potensi kerugian negara sekitar Rp3,3 miliar.

“Kami meminta seluruh temuan ini di tindaklanjuti. Jika terdapat unsur pidana, proses hukum harus berjalan tegas tanpa pandang bulu. Pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan kerugian negara harus di pulihkan,” tegas Amran.

Data Kementerian Pertanian mencatat dugaan kekurangan bibit tersebut tersebar di lima wilayah, yaitu:

  • Sulawesi Utara: 20.518 batang dengan nilai sekitar Rp976 juta.
  • Banten: 44.654 batang dengan nilai sekitar Rp799 juta.
  • Jawa Barat: 38.654 batang dengan nilai sekitar Rp771 juta.
  • Indragiri Hilir: 31.920 batang dengan nilai sekitar Rp718 juta.
  • Gorontalo: 1.049 batang dengan nilai sekitar Rp51 juta.

Kementerian Pertanian menyatakan akan terus mengawal proses audit dan penegakan hukum agar program pengembangan perkebunan dapat berjalan sesuai tujuan serta memberikan manfaat maksimal bagi petani dan sektor pertanian nasional. (fnr/*)

Berita Terkait

5 Penyebab Bunga Tanaman Rontok dan Cara Mengatasinya Tepat
Baru Mulai Hidroponik? Kenali 9 Istilah Penting agar Tidak Salah Praktik
Cara Menggunakan Pupuk Kandang agar Cabai Tidak Layu dan Bebas Penyakit
5 Fakta Universitas Republik Indonesia yang Perlu Diketahui Publik
Harga Cabai Merah Kayu Aro Kerinci Naik Dibanding Pekan Lalu
Tanaman Cabai Layu Setelah Pindah Tanam? Ini Cara Mengatasi Stres agar Cepat Pulih
Bentuk Formulasi Pestisida yang Wajib Diketahui Petani
Harga Pertalite Tetap Stabil Meski Minyak Dunia Tembus US$100
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 16:02

5 Penyebab Bunga Tanaman Rontok dan Cara Mengatasinya Tepat

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 16:02

Baru Mulai Hidroponik? Kenali 9 Istilah Penting agar Tidak Salah Praktik

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:04

Cara Menggunakan Pupuk Kandang agar Cabai Tidak Layu dan Bebas Penyakit

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:02

5 Fakta Universitas Republik Indonesia yang Perlu Diketahui Publik

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:32

Harga Cabai Merah Kayu Aro Kerinci Naik Dibanding Pekan Lalu

Berita Terbaru