Kiniin.com – Selama bertahun-tahun, banyak orang menganggap depresi hanya berkaitan dengan kondisi psikologis atau gangguan keseimbangan zat kimia di otak. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa penyebab depresi jauh lebih rumit. Sejumlah peneliti kini menaruh perhatian pada hubungan antara sistem kekebalan tubuh dan kesehatan mental.
Dikutip dari Medcom, para ilmuwan menemukan bahwa aktivitas sistem imun yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi munculnya gejala depresi pada sebagian orang. Temuan tersebut membuka sudut pandang baru dalam memahami gangguan kesehatan mental yang selama ini lebih banyak dikaitkan dengan fungsi otak.
Saat seseorang mengalami infeksi, tubuh biasanya bereaksi dengan menurunkan energi. Kondisi itu membuat seseorang lebih memilih beristirahat, mengurangi aktivitas, dan menarik diri dari lingkungan sekitar. Respons tersebut membantu tubuh menghemat energi agar proses pemulihan berjalan lebih optimal.
Profesor Fakultas Kedokteran Universitas Indiana, Bill Sullivan, Ph.D., menyebut kondisi tersebut sebagai sickness behavior atau perilaku sakit. Menurutnya, mekanisme alami itu membantu tubuh mengurangi risiko penyebaran infeksi sekaligus mendukung proses penyembuhan.
Masalah muncul ketika respons tersebut tidak berhenti setelah infeksi berakhir. Berdasarkan data Psychology Today, sekitar 332 juta orang di dunia mengalami gejala yang menyerupai perilaku sakit dalam jangka panjang. Mereka tetap merasakan kesedihan, kelelahan berat, serta kehilangan motivasi meski kondisi fisik telah membaik.
Sebelum penelitian mengenai sistem kekebalan tubuh berkembang, ilmuwan lebih dahulu memusatkan perhatian pada peran zat kimia di otak. Pada dekade 1950-an, dokter menemukan bahwa obat penurun tekanan darah reserpine dapat memicu gejala depresi sebagai efek samping.
Sebaliknya, obat tuberkulosis iproniazid justru mampu meningkatkan suasana hati pasien. Perbedaan efek kedua obat tersebut melahirkan hipotesis monoamin yang kemudian menjadi dasar pengembangan antidepresan golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI).
Peneliti mengetahui bahwa reserpine maupun iproniazid sama-sama memengaruhi kadar serotonin, norepinefrin, dan dopamin. Ketiga senyawa tersebut berperan penting dalam mengatur suasana hati, emosi, serta berbagai fungsi otak yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Efektivitas Pengobatan Masih Menjadi Tantangan
Meski obat antidepresan golongan SSRI telah membantu banyak pasien, para peneliti masih menghadapi sejumlah tantangan. Mereka menemukan bahwa kadar monoamin di otak tidak selalu mencerminkan tingkat keparahan depresi yang dialami seseorang.
Selain itu, antidepresan umumnya baru memberikan manfaat setelah beberapa minggu penggunaan, padahal perubahan kadar zat kimia di otak berlangsung jauh lebih cepat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih ada mekanisme lain yang memengaruhi munculnya depresi.
Data penelitian juga memperlihatkan sekitar sepertiga penderita depresi tidak memperoleh hasil yang memadai dari terapi antidepresan. Fakta ini mendorong para ilmuwan memperluas penelitian, termasuk mengkaji peran sistem kekebalan tubuh dalam perkembangan gangguan tersebut.
Melalui berbagai riset lanjutan, para peneliti berharap dapat menemukan pendekatan pengobatan yang lebih efektif. Pemahaman yang semakin mendalam mengenai hubungan antara sistem imun dan kesehatan mental diharapkan mampu membuka peluang lahirnya terapi baru bagi penderita depresi. (fnr/*)










Komentar