Rupiah Berpeluang Menguat Hari Ini, Sentimen Perdamaian AS-Iran Jadi Pendorong

- Jurnalis

Rabu, 17 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rupiah Berpeluang Menguat Hari Ini, Sentimen Perdamaian AS-Iran Jadi Pendorong (Foto: Ist)

Rupiah Berpeluang Menguat Hari Ini, Sentimen Perdamaian AS-Iran Jadi Pendorong (Foto: Ist)

Kiniin.com – Nilai tukar rupiah berpeluang mencatat penguatan pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2026. Optimisme pasar muncul setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal yang mengarah pada penyelesaian konflik berkepanjangan antara kedua negara.

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung dinamis. Meski demikian, ia menilai mata uang Garuda berpotensi menutup perdagangan di kisaran Rp17.690 hingga Rp17.728 per dolar AS.

“Untuk perdagangan Rabu (17/6/2026), mata uang rupiah bergerak fluktuatif namun berpotensi di tutup menguat di rentang Rp17.690 sampai Rp17.728 per dolar AS,” kata Ibrahim, Rabu (17/6/2026).

Pada perdagangan sehari sebelumnya, Selasa (16/6/2026), rupiah di tutup melemah 19 poin ke posisi Rp17.725 per dolar AS. Angka tersebut lebih rendah di banding penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.708 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sempat menguat sekitar lima poin sebelum akhirnya terkoreksi menjelang penutupan pasar.

Ibrahim menjelaskan, kesepakatan yang di umumkan Washington dan Teheran menjadi faktor utama yang mendorong optimisme pasar. Kedua negara telah menyusun kerangka kerja perdamaian yang tidak hanya bertujuan mengakhiri konflik, tetapi juga membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga :  Paket Stimulus Rp26,34 Triliun Meluncur, Pemerintah Beri Insentif Pajak hingga Bantuan Beras

Pasar menilai perkembangan tersebut dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi dunia. Kondisi itu selama ini menjadi salah satu kekhawatiran utama investor global. Rencana penandatanganan kesepakatan secara resmi pada akhir pekan turut meningkatkan minat terhadap aset berisiko dan menekan permintaan dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Sentimen positif juga datang dari pasar energi. Harga minyak mentah Brent turun ke titik terendah dalam tiga bulan terakhir. Penurunan harga minyak dipandang mampu meredakan tekanan inflasi global sekaligus mendukung pemulihan ekonomi di berbagai negara.

Pergerakan tersebut ikut mendorong penguatan bursa saham global. Investor menyambut baik peluang turunnya biaya energi yang berpotensi memperbaiki prospek pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, pelaku pasar masih menunggu kepastian terkait pelaksanaan kesepakatan karena proses menuju gencatan senjata permanen masih memerlukan pembahasan lanjutan.

“Minyak mentah Brent jatuh ke level terendah tiga bulan pada hari Senin, sementara ekuitas global menguat karena ekspektasi bahwa biaya energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan inflasi,” ujar Ibrahim.

Pasar Menanti Keputusan Bank Sentral Dunia

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda penting bank sentral dunia yang berlangsung pekan ini.

Baca Juga :  Harga Pertalite Tetap Stabil Meski Minyak Dunia Tembus US$100

Bank Sentral Jepang (BOJ) baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1 persen. Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Langkah itu merupakan bagian dari kebijakan normalisasi moneter sekaligus upaya menjaga inflasi tetap terkendali.

Di Australia, Bank Cadangan Australia memilih mempertahankan suku bunga di level 4,35 persen setelah tiga kali melakukan kenaikan secara beruntun. Keputusan tersebut mencerminkan sikap hati-hati otoritas moneter dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Sementara itu, perhatian pasar kini tertuju pada hasil rapat Federal Reserve Amerika Serikat dan Bank of England yang di jadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Investor juga akan mencermati pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, guna memperoleh gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga AS pada periode mendatang.

“Para pedagang kini menunggu pengumuman kebijakan dari Federal Reserve AS dan Bank of England akhir pekan ini. Pasar akan mengamati dengan cermat komentar dari Ketua Fed Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk tentang arah suku bunga AS di masa mendatang,” pungkas Ibrahim. (fnr/*)

Berita Terkait

Harga Cabai Merah Kayu Aro Kerinci Naik Dibanding Pekan Lalu
Harga Pertalite Tetap Stabil Meski Minyak Dunia Tembus US$100
Potensi Ekonomi Digital Indonesia Didukung AI Capai Rp66 Triliun
Rumah Kosong Sebaiknya Dijual atau Disewakan?
Purbaya Pastikan Ekonomi RI Tetap Kuat, MBG dan Kopdes Merah Putih Terus Dievaluasi
Kabar Baik! Pengemudi Ojol Kini Bisa Punya Rumah Subsidi Tanpa DP
Purbaya Optimistis Harga Pertamax Kembali Turun
Paket Stimulus Rp26,34 Triliun Meluncur, Pemerintah Beri Insentif Pajak hingga Bantuan Beras
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:32

Harga Cabai Merah Kayu Aro Kerinci Naik Dibanding Pekan Lalu

Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:02

Harga Pertalite Tetap Stabil Meski Minyak Dunia Tembus US$100

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:02

Potensi Ekonomi Digital Indonesia Didukung AI Capai Rp66 Triliun

Minggu, 5 Juli 2026 - 10:04

Rumah Kosong Sebaiknya Dijual atau Disewakan?

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:04

Purbaya Pastikan Ekonomi RI Tetap Kuat, MBG dan Kopdes Merah Putih Terus Dievaluasi

Berita Terbaru