Kiniin.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan alasan pemerintah mempercepat peluncuran biodiesel B50 pada 2026. Menurut dia, kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kedaulatan energi nasional.
Bahlil menilai program B50 tidak hanya berkaitan dengan peningkatan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50. Pemerintah juga melihat kebijakan ini sebagai langkah penting untuk memperkuat kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan energi dari sumber daya domestik serta mengurangi ketergantungan pada impor.
“Perintah Bapak Presiden waktu itu, Bapak Presiden mengatakan bahwa bagaimana caranya pun B50 harus kita bisa luncurkan di 2026. Karena kami maknai arahan dan perintah Bapak Presiden tidak hanya persoalan B50-nya, tapi persoalan kedaulatan, kemandirian, dan harga diri bangsa untuk bisa kita menghasilkan energi dari negara kita sendiri,” ujar Bahlil saat peluncuran B50 bersama Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Kamis (9/7/2026).
Ia mengatakan pemerintah memandang program B50 sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan energi nasional. Karena itu, berbagai kementerian dan lembaga terkait terus memperkuat koordinasi agar target tersebut dapat tercapai.
“Atas dasar arahan tersebut, maka kami tim bekerja keras. Pak Menko juga melakukan rapat-rapat untuk melakukan koordinasi. Dan alhamdulillah hari ini kita luncurkan,” katanya.
Implementasi B50 Hadapi Tantangan Besar
Bahlil mengakui percepatan penerapan B50 bukan pekerjaan ringan. Selama ini, peningkatan kadar campuran biodiesel umumnya berlangsung secara bertahap, yakni sekitar 5 persen hingga maksimal 10 persen.
Menurut dia, penambahan campuran sebesar 10 persen saja biasanya memerlukan waktu hingga tiga tahun untuk melalui tahapan pengujian sebelum diterapkan secara luas.
“Awalnya memang B50 ini jujur kami katakan bahwa ini bukan pekerjaan yang mudah. Karena biasanya tahapannya itu, Bapak Presiden, naik 5, maksimal 10 persen. Itu pun 10 persen itu dia tiga tahun baru bisa kita melakukan uji coba,” ujarnya.
Meski menghadapi tantangan besar, pemerintah tetap mendorong percepatan implementasi sesuai arahan Presiden.
B50 Perkuat Kemandirian Energi Nasional
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa program B50 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi. Pemerintah berharap penggunaan biodiesel berbasis minyak sawit dapat menekan ketergantungan terhadap bahan bakar impor.
Ia menyebut konsumsi solar nasional saat ini mencapai sekitar 38 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun. Sebelumnya, Indonesia masih mengimpor sekitar 3 juta hingga 4 juta kiloliter solar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Menurut Bahlil, penerapan B50 memungkinkan Indonesia menghentikan impor solar untuk pertama kalinya. Selain menghemat devisa negara, kebijakan tersebut juga meningkatkan permintaan crude palm oil (CPO) serta membuka peluang kerja di berbagai sektor.
“Untuk solar, total konsumsi kita itu rata-rata di angka 38 juta sampai dengan 40 juta kiloliter solar per tahun. Awalnya kita itu masih impor sekitar 3-4 juta kiloliter per tahun. Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Dan ini adalah pertama kali,” pungkasnya. (fnr/*)










Komentar