Waspada! Ini Alasan Ilmiah Anak Mudah Meniru Influencer di Media Sosial

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 5 Juli 2026 - 14:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi anak bermain ponsel (Foto: Getty Images/AzmanJaka)

Ilustrasi anak bermain ponsel (Foto: Getty Images/AzmanJaka)

Kiniin.com – Media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian anak. Melalui berbagai platform digital, mereka dapat mengakses video, foto, hingga cerita dari influencer hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini membuat influencer memiliki pengaruh besar terhadap cara anak berpikir, bersikap, bahkan mengambil keputusan.

Konten yang mereka konsumsi setiap hari perlahan membentuk cara pandang terhadap gaya hidup, kebiasaan, maupun standar kesuksesan. Tanpa di sadari, anak sering meniru apa yang mereka lihat karena menganggap influencer sebagai sosok yang dekat dan layak di jadikan panutan.

Benarkah Anak Ingin Menjadi Influencer?

Banyak orang tua menganggap kebiasaan anak menonton konten influencer menjadi tanda bahwa mereka bercita-cita menjadi kreator konten. Namun, sejumlah penelitian justru menunjukkan hal yang berbeda.

Peneliti dari Ghent University, Belgia, Liselot Hudders, PhD, menjelaskan bahwa hampir seluruh akun influencer anak di Eropa sebenarnya dikelola oleh orang tua. Meskipun akun tersebut menampilkan aktivitas anak, pengelolaan hingga pengambilan keputusan tetap berada di tangan orang tua.

“Penelitian terbaru di Eropa menunjukkan bahwa hampir semua akun influencer anak sebenarnya dikelola oleh orang tua. Jadi, meskipun akun tersebut terlihat dikelola oleh anak, pada kenyataannya anak tidak memiliki akses langsung terhadap akun tersebut.”

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa keinginan anak menjadi influencer tidak selalu muncul secara alami. Dalam banyak kasus, orang tua lebih dulu mengenalkan dunia influencer, kemudian mengarahkan anak untuk ikut terlibat.

Jika anak mulai tertarik menjadi influencer, orang tua sebaiknya membuka ruang diskusi mengenai tanggung jawab, batasan, serta aturan yang harus dipatuhi sebelum memasuki dunia media sosial.

Orang Tua Perlu Bijak Menggunakan Media Sosial

Penelitian dari Western University mengingatkan bahwa profesi influencer tidak selalu terlihat seindah yang ditampilkan di internet.

Peneliti Daniel Clark menjelaskan bahwa sebagian besar anak awalnya hanya ingin memiliki banyak pengikut dan berinteraksi dengan orang lain. Seiring waktu, aktivitas tersebut berkembang menjadi pekerjaan yang menyerupai sebuah bisnis.

“Lalu, seiring waktu, semuanya terus berkembang hingga pada akhirnya berjalan layaknya sebuah perusahaan.”

Clark juga menemukan bahwa orang tua biasanya memegang kendali terhadap produksi konten sekaligus mengelola pendapatan yang diperoleh dari akun anak.

Karena itu, orang tua perlu lebih berhati-hati saat membagikan foto maupun video anak, terutama jika memiliki banyak pengikut di media sosial.

Menurut Clark, jejak digital yang dibangun sejak usia dini akan menjadi bagian dari identitas anak pada masa depan. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan untuk membentuk identitas digitalnya sendiri.

Mengapa Influencer Sangat Mudah Memengaruhi Anak?

Peneliti University of South Florida, Kelli S. Burns, PhD, menjelaskan bahwa pengaruh influencer muncul melalui tiga proses utama.

Baca Juga :  Sensus Ekonomi 2026 Mulai Berjalan, Petugas BPS Jambi Datangi Warga dari Rumah ke Rumah

Pertama, anak memproses informasi secara aktif ketika menjelajahi media sosial. Pengalaman ini berbeda di bandingkan saat mereka hanya melihat iklan di televisi.

Kedua, konten influencer sering kali tampil layaknya unggahan pengguna biasa sehingga anak sulit membedakan mana konten pribadi dan mana promosi.

Ketiga, anak cenderung mempercayai influencer yang mereka anggap menarik, dekat, atau memiliki kesamaan dengan dirinya.

Gabungan ketiga faktor tersebut membuat rekomendasi, gaya hidup, hingga pendapat seorang influencer lebih mudah memengaruhi keputusan anak di bandingkan bentuk iklan konvensional.

Tanda Anak Terlalu Terpengaruh Influencer

Orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, anak tiba-tiba mengikuti pola makan tertentu, membeli barang yang sedang viral, menggunakan bahasa yang sama dengan influencer favoritnya, atau berusaha mengikuti tren yang sedang populer.

Burns juga menyarankan agar orang tua menggunakan platform media sosial yang sama dengan anak.

“Orang tua tidak harus mengikuti akun anak, tetapi dengan menggunakan platform yang sama, mereka dapat memahami konten apa saja yang sedang tren di sana.”

Dengan memahami isi platform tersebut, orang tua dapat lebih cepat mengenali tren yang berpotensi membahayakan, seperti prank berlebihan, perundungan, atau tantangan yang berisiko.

Dampak Influencer terhadap Perkembangan Sosial Anak

Konten media sosial tidak hanya memengaruhi perilaku, tetapi juga kondisi emosional anak.

Anak usia praremaja dan remaja memiliki kondisi psikologis yang masih berkembang sehingga lebih mudah terbawa emosi saat melihat kehidupan yang tampak sempurna di media sosial.

Tanpa pendampingan, paparan konten influencer secara terus-menerus dapat membentuk pola pikir yang kurang sehat, seperti selalu ingin mendapat pengakuan, mengejar popularitas, atau merasa tidak puas terhadap dirinya sendiri.

Karena itu, orang tua perlu menetapkan batas penggunaan media sosial, mengajarkan etika berinteraksi di dunia digital, mendorong anak menghasilkan hal positif, serta menyediakan waktu tanpa gawai untuk bermain, membaca, dan menekuni hobi.

Kapan Anak Siap Menggunakan Media Sosial?

Melissa Hunt, PhD, peneliti dari University of Pennsylvania, mengingatkan bahwa mengikuti orang asing, termasuk influencer maupun selebritas, dapat membuat seseorang lebih mudah membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dalam durasi yang terbatas dapat membantu anak merasa lebih bahagia dan tetap terhubung dengan teman-temannya.

Sebaliknya, penggunaan yang berlebihan berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan sosial, rendah diri, serta kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Baca Juga :  IAIN Kerinci Wisuda 538 Lulusan, Siapkan Program S3 dan Target Jadi UIN pada 2027

Cara Mengurangi Pengaruh Buruk Influencer terhadap Anak

Sebelum menyimpulkan bahwa influencer membawa dampak negatif, orang tua sebaiknya mengenali terlebih dahulu konten yang di sukai anak. Cara ini membantu orang tua memahami alasan anak menyukai sosok tersebut.

Bangun percakapan yang santai. Tanyakan hal-hal sederhana, misalnya apa yang membuat influencer itu menarik atau apakah perilaku yang sama akan tetap di anggap baik jika di lakukan teman di kehidupan nyata.

Berikut beberapa langkah yang dapat di lakukan orang tua.

1. Rutin Berdiskusi dengan Anak

Jelaskan bahwa pendapat influencer tidak selalu benar dan tidak harus di ikuti.

Saat influencer mempromosikan produk tertentu, ajak anak memahami bahwa tujuan utama konten tersebut bisa saja untuk kepentingan promosi.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kehadiran orang tua saat anak mengonsumsi konten digital dapat mengurangi keinginan membeli barang secara impulsif.

Alihkan perhatian anak pada nilai yang lebih penting, seperti kreativitas, empati, kerja keras, dan kepedulian terhadap orang lain.

Untuk anak yang masih kecil, batasi waktu menonton video populer. Sementara bagi anak yang lebih besar, jadikan konten influencer sebagai bahan diskusi bersama.

2. Berikan Contoh yang Baik

Psikoterapis anak Joanna Fortune menyarankan orang tua membuat akun media sosial bersama anak agar mereka dapat melihat dan membahas berbagai konten secara terbuka.

Orang tua juga dapat mengajak anak mengamati proses penyuntingan foto, cara membuat konten, hingga membedakan kehidupan nyata dengan tampilan yang telah di kurasi di media sosial.

Pendekatan seperti ini membantu anak menjadikan nilai-nilai keluarga sebagai pedoman utama, bukan sekadar mengikuti tren dari influencer.

3. Kenalkan Konsep Konten Berbayar

Banyak influencer menggunakan tagar yang menunjukkan bahwa unggahan mereka merupakan hasil kerja sama dengan sebuah merek.

Jelaskan kepada anak bahwa konten tersebut memiliki tujuan promosi. Dengan begitu, anak tidak langsung menganggap semua rekomendasi sebagai pendapat yang sepenuhnya objektif.

4. Latih Anak Berpikir Kritis

Biasakan anak mempertanyakan informasi yang mereka lihat di media sosial.

Ajak mereka berdiskusi mengenai manfaat dan risiko dari setiap konten. Dengarkan pendapat anak tanpa menghakimi agar mereka merasa nyaman menyampaikan pandangannya.

Kemampuan berpikir kritis akan membantu anak menyaring informasi, memahami tujuan sebuah unggahan, serta mengambil keputusan dengan lebih bijak.

Pada akhirnya, media sosial bukanlah sesuatu yang harus di jauhi. Yang terpenting, orang tua hadir sebagai pendamping, memberi contoh yang baik, serta membangun komunikasi terbuka agar anak mampu menggunakan media sosial secara sehat, aman, dan bertanggung jawab. (fnr/*)

Berita Terkait

Cara Aktivasi Rekening SimPel PIP 2026, Simak Syarat, Langkah, dan Besaran Dana Bantuan
Cara Daftar KIP Kuliah 2026 Secara Online
SPMB PJJ 2026 Resmi Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftar SMA Pendidikan Jarak Jauh
CPNS Guru 2027 Segera Dibuka, Indonesia Masih Kekurangan 561 Ribu Guru
Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam: Cara Menilai Kemampuan Murid Secara Menyeluruh
Pembelajaran Mendalam (PM): Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua
Aturan Seragam Sekolah SD, SMP, SMA 2026/2027, Murid Baru Wajib Tahu
Ruang Belajar Peserta Didik dan Pengaruh Lingkungan terhadap Perkembangan Anak
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 12:05 WIB

Cara Aktivasi Rekening SimPel PIP 2026, Simak Syarat, Langkah, dan Besaran Dana Bantuan

Kamis, 9 Juli 2026 - 10:02 WIB

Cara Daftar KIP Kuliah 2026 Secara Online

Rabu, 8 Juli 2026 - 21:01 WIB

SPMB PJJ 2026 Resmi Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftar SMA Pendidikan Jarak Jauh

Minggu, 5 Juli 2026 - 14:02 WIB

Waspada! Ini Alasan Ilmiah Anak Mudah Meniru Influencer di Media Sosial

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:02 WIB

CPNS Guru 2027 Segera Dibuka, Indonesia Masih Kekurangan 561 Ribu Guru

Berita Terbaru

Sana, anggota girl group TWICE (Foto: Instagram - @m.by__sana)

Showbiz

Sana TWICE Debut sebagai Aktris, Bintangi Film Nyangi

Kamis, 9 Jul 2026 - 21:06 WIB