Muncul Embun Es di Dieng, BRIN Ungkap Penyebab dan Dampaknya bagi Pertanian

Fenomena frost atau embun es kembali menyelimuti Dataran Tinggi Dieng. BRIN menjelaskan faktor penyebab, dampak bagi pertanian, dan langkah antisipasinya.

- Jurnalis

Jumat, 17 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Muncul Embun Es di Dieng, BRIN Ungkap Penyebab dan Dampaknya bagi Pertanian (Foto: Ist)

Muncul Embun Es di Dieng, BRIN Ungkap Penyebab dan Dampaknya bagi Pertanian (Foto: Ist)

Kiniin.comFenomena embun es atau frost kembali muncul di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, dan ramai di perbincangkan di media sosial. Lapisan es tipis tampak menempel pada dedaunan serta permukaan tanaman di sejumlah titik, memunculkan pemandangan yang unik sekaligus mengundang perhatian publik.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aris Pramudia, menjelaskan bahwa fenomena tersebut terjadi akibat kombinasi sejumlah faktor alam yang berlangsung secara bersamaan.

Menurut Aris, embun es umumnya muncul di wilayah berketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, seperti kawasan Dieng. Kondisi geografis dan cuaca pada musim kemarau menjadi faktor utama yang memicu terbentuknya frost.

Dipengaruhi Musim Kemarau dan Bentuk Wilayah

Aris menerangkan, pada puncak musim kemarau, tiupan angin membawa massa udara yang lebih dingin ke wilayah dataran tinggi. Di sisi lain, kondisi langit yang cerah tanpa tutupan awan membuat panas dari permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hingga dini hari.

“Selain karena tiupan angin pada puncak musim kemarau yang membawa udara dingin, langit cerah atau clear sky tanpa tutupan awan juga menjadi penyebabnya. Bentuk wilayah yang cekung juga menyebabkan udara mengendap dan terjebak di dasar cekungan, sehingga tidak dapat mengalir keluar dari cekungan,” kata Aris, di kutip dari laman BRIN, Rabu (15/7/2026).

Baca Juga :  BRMP Jambi Pastikan Kualitas 561 Ribu Benih Kelapa Dalam untuk Program Pengembangan 2026

Selain faktor tersebut, kondisi angin yang cenderung tenang saat dini hari turut mempercepat penurunan suhu udara. Ketika suhu mencapai titik beku, uap air yang berada di permukaan tanaman berubah menjadi kristal es.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru di Dieng. Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan “bun upas” atau embun beracun karena dampaknya yang cukup merugikan bagi sektor pertanian.

Berpotensi Merusak Tanaman Hortikultura

Di balik keindahan yang sering menarik wisatawan, kemunculan embun es dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman pertanian. Suhu yang sangat rendah berisiko menyebabkan jaringan tanaman membeku dan mengganggu proses pertumbuhan.

“Di dataran tinggi Dieng, tanaman existing adalah tanaman pertanian hortikultura atau perkebunan dataran tinggi, seperti kentang, sayuran, teh, dan lainnya. Sehingga, di sarankan untuk tetap mengembangkan tanaman existing tersebut dengan adanya antisipasi terhadap munculnya frost pada waktu-waktu tertentu,” ujar Aris.

Bagi petani, fenomena ini dapat berujung pada penurunan produktivitas hingga kerugian ekonomi apabila tidak di antisipasi sejak dini. Tanaman kentang dan berbagai jenis sayuran menjadi komoditas yang paling rentan terdampak.

Langkah Antisipasi untuk Melindungi Tanaman

BRIN menyarankan sejumlah langkah mitigasi guna mengurangi risiko kerusakan akibat embun es. Salah satu metode yang dapat di terapkan adalah water sprinkling atau penyemprotan air pada tanaman.

Baca Juga :  Harga iPhone 17 Series Naik Lagi di Indonesia Juli 2026, Cek Daftar Harga Terbaru

Selain itu, petani juga dapat melakukan pemanasan langsung di area pertanian, mengaduk udara dengan bantuan alat tertentu, atau menciptakan sirkulasi udara buatan agar udara dingin tidak mengendap terlalu lama.

Langkah lainnya yakni memasang naungan pada tanaman, memilih lokasi tanam yang relatif aman dari cekungan udara dingin, serta menggunakan material penutup permukaan tanah untuk menjaga kestabilan suhu.

Potensi Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca

Aris menilai teknologi modifikasi cuaca (TMC) juga dapat menjadi bahan pembelajaran dalam upaya mengantisipasi dampak frost di Dieng. Ia mencontohkan pengalamannya saat melakukan penelitian di kawasan Cartenz, Papua Tengah.

Menurutnya, penerapan teknologi tersebut bukan bertujuan meningkatkan volume salju atau embun es di Dieng, melainkan sebagai upaya memahami dan mengelola dampak fenomena tersebut terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat.

“Teknologi dari modifikasi cuaca di Dieng bukan untuk menambah volume salju, tapi menjadi pembelajaran teknologi dalam hal mengantisipasi terjadinya salju. Dan yang menjadi perhatian bersama adalah terdapat konflik kebutuhan adanya frost di Dieng antara sektor pertanian dan sektor pariwisata,” tutup Aris.

(fnr/*)

Berita Terkait

Jangan Salah Pupuk! Kenali Perbedaan Pupuk Makro dan Mikro agar Hasil Panen Maksimal
BRMP Jambi Kawal Kesiapan Program Cetak Sawah Rakyat Seluas 22 Hektare di Sarolangun
Mentan Amran Akui Diserang Buzzer, Petani Merauke Malah Minta Tambah Sawah 2.000 Hektare
Mentan: Pupuk Bersubsidi Terjaga Jadi Kunci Produksi Beras Indonesia Terus Meningkat
BRMP Jambi Kembangkan Pepaya Merah Delima, Buka Peluang Baru bagi Petani Hortikultura
BRMP Jambi Pastikan Kualitas 561 Ribu Benih Kelapa Dalam untuk Program Pengembangan 2026
BRMP Jambi Pantau 800 Ribu Bibit Kopi Liberika, Siap Disalurkan ke Petani pada September 2026
Petani Muara Sebo Ilir Percepat Tanam Padi, Antisipasi Kemarau dan Ancaman Kekeringan
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:02

Jangan Salah Pupuk! Kenali Perbedaan Pupuk Makro dan Mikro agar Hasil Panen Maksimal

Jumat, 17 Juli 2026 - 09:01

Muncul Embun Es di Dieng, BRIN Ungkap Penyebab dan Dampaknya bagi Pertanian

Kamis, 9 Juli 2026 - 14:04

BRMP Jambi Kawal Kesiapan Program Cetak Sawah Rakyat Seluas 22 Hektare di Sarolangun

Minggu, 5 Juli 2026 - 08:05

Mentan Amran Akui Diserang Buzzer, Petani Merauke Malah Minta Tambah Sawah 2.000 Hektare

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:01

Mentan: Pupuk Bersubsidi Terjaga Jadi Kunci Produksi Beras Indonesia Terus Meningkat

Berita Terbaru