China Resmikan Pusat Data AI Bawah Laut Pertama Berbasis Energi Angin Lepas Pantai

Fasilitas senilai USD226 juta di dekat Shanghai mengandalkan pendinginan alami air laut dan energi angin untuk mendukung kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat.

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pusat Data AI Bawah Laut Pertama Berbasis Energi Angin Lepas Pantai  (Foto: China Daily China)

Pusat Data AI Bawah Laut Pertama Berbasis Energi Angin Lepas Pantai (Foto: China Daily China)

Kiniin.com – Meningkatnya kebutuhan listrik untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong berbagai negara mencari solusi baru yang lebih efisien. China kini mengambil langkah berbeda dengan menempatkan pusat data AI di dasar laut.

Fasilitas komersial tersebut resmi beroperasi di kedalaman sekitar 35 meter di perairan dekat Zona Khusus Lingang, Shanghai. Proyek ini di sebut sebagai pusat data bawah laut komersial pertama di dunia yang memanfaatkan energi dari ladang angin lepas pantai sebagai sumber daya utamanya.

Investasi USD226 Juta dengan Kapasitas Ribuan Server

Pusat data senilai USD226 juta itu di kembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah China dan perusahaan teknologi swasta HiCloud Technology. Di dalamnya terdapat hampir 2.000 server, termasuk klaster GPU milik China Telecom dan LinkWise. Secara keseluruhan, fasilitas tersebut memiliki kapasitas daya mencapai 24 megawatt.

Infrastruktur ini di rancang untuk menangani berbagai kebutuhan digital, mulai dari pemrosesan AI, layanan jaringan 5G, hingga anotasi data dalam skala besar.

Pendinginan Alami Air Laut Tingkatkan Efisiensi Energi

Salah satu keunggulan utama proyek ini terletak pada sistem pendinginannya. Berbeda dengan pusat data konvensional yang membutuhkan konsumsi listrik tinggi untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil, fasilitas bawah laut ini memanfaatkan suhu air laut yang relatif konstan sebagai pendingin alami.

Baca Juga :  Sustainable Tourism in Bali: Balancing Preservation and Growth

Pendekatan tersebut menghasilkan tingkat efisiensi energi yang lebih baik. Berdasarkan laporan media China, pusat data ini mampu mencapai Power Usage Effectiveness (PUE) di bawah 1,15. Angka tersebut jauh lebih rendah di bandingkan rata-rata industri yang berada di kisaran 1,5. Semakin rendah nilai PUE, semakin besar porsi listrik yang di gunakan untuk proses komputasi di bandingkan kebutuhan pendukung seperti pendinginan dan ventilasi.

Didukung Langsung oleh Energi Angin Lepas Pantai

Selain mengandalkan pendinginan alami, pasokan energi utama fasilitas ini juga berasal dari ladang angin lepas pantai yang terhubung langsung ke sistem operasional. Skema tersebut membantu mengurangi beban jaringan listrik nasional yang saat ini menghadapi tekanan akibat meningkatnya kebutuhan daya dari industri AI.

Konsep pusat data bawah laut sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, Microsoft pernah menguji teknologi serupa melalui Proyek Natick di wilayah Skotlandia dan California. Hasil pengujian menunjukkan bahwa lingkungan bawah laut yang tertutup dapat membantu menekan risiko kerusakan perangkat keras karena minim paparan oksigen serta perubahan suhu yang ekstrem.

Baca Juga :  Singapura Jadi Tujuan Wisata Favorit Turis Indonesia dan Filipina Menurut Survei 2026

Namun, proyek yang di kembangkan China ini menjadi langkah berbeda karena telah memasuki tahap komersial dalam skala besar, sesuatu yang belum berhasil di wujudkan oleh pihak lain.

Tantangan Teknis Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Meski menawarkan efisiensi yang menjanjikan, penerapan pusat data bawah laut masih menghadapi sejumlah tantangan. Risiko korosi, ketahanan kabel bawah laut, serta keterbatasan akses saat terjadi gangguan perangkat menjadi perhatian utama.

Proses penggantian komponen yang mengalami kerusakan juga jauh lebih rumit di bandingkan pusat data yang berada di daratan. Karena itu, operator mengandalkan sistem pemantauan jarak jauh dan teknologi redundansi untuk memastikan operasional tetap berjalan tanpa harus sering melakukan intervensi langsung di lokasi.

Keberhasilan proyek ini akan menjadi indikator penting bagi masa depan infrastruktur digital ramah lingkungan. Jika mampu mengatasi berbagai tantangan teknis yang ada, pusat data bawah laut berpotensi menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat di masa mendatang. (fnr/*)

Berita Terkait

El Niño Diprediksi Menguat, Produksi Pangan Asia Terancam dan Harga Beras Mulai Naik
HyperOS Bawa Fitur Baru, Pengguna Xiaomi Bisa Transfer File ke Perangkat Apple
Singapura Jadi Tujuan Wisata Favorit Turis Indonesia dan Filipina Menurut Survei 2026
Domain .ai.id Resmi Diluncurkan, Perkuat Identitas Digital Industri AI Indonesia
SoftBank Salip Toyota Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Jepang Berkat AI
Activision Hentikan Call of Duty: Warzone di PS4 dan Xbox One
Piala Dunia 2026 Diikuti 1.248 Pemain dari 48 Negara, Messi dan Ronaldo Berpeluang Cetak Rekor
Tren Tinggal Sebulan di Korea Selatan Meningkat, Wisatawan Ingin Rasakan Kehidupan Lokal
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 11:00 WIB

El Niño Diprediksi Menguat, Produksi Pangan Asia Terancam dan Harga Beras Mulai Naik

Sabtu, 6 Juni 2026 - 09:00 WIB

China Resmikan Pusat Data AI Bawah Laut Pertama Berbasis Energi Angin Lepas Pantai

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:00 WIB

HyperOS Bawa Fitur Baru, Pengguna Xiaomi Bisa Transfer File ke Perangkat Apple

Kamis, 4 Juni 2026 - 17:00 WIB

Singapura Jadi Tujuan Wisata Favorit Turis Indonesia dan Filipina Menurut Survei 2026

Kamis, 4 Juni 2026 - 08:00 WIB

Domain .ai.id Resmi Diluncurkan, Perkuat Identitas Digital Industri AI Indonesia

Berita Terbaru